SwaraBhayangkara.id – Jakarta, UMJ – Negara-negara Arab harus segera mendorong terwujudnya solusi dua negara demi mengakhiri penderitaan rakyat Gaza, Palestina, yang terus menerus menghadapi kelaparan, ketakutan, dan ancaman pembunuhan dari Israel. Dua tahun setelah konflik di Gaza pada 7 Oktober 2023, yang telah merenggut lebih dari 65 ribu jiwa, perdamaian harus diupayakan meski Israel terus menunjukkan tanda-tanda tidak menghentikan pemboman dan penyerangan terhadap masyarakat Palestina yang tidak berdosa.
Hal ini disampaikan oleh dosen Magister Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Dr. Asep Setiawan, saat menjadi salah satu pemateri di seminar bertajuk “Refleksi Dua Tahun Serangan Israel-Hamas: Membangun Solusi Perdamaian Berkelanjutan” di Pusat Riset Politik, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, pada Selasa (7/10).

Dalam makalahnya yang berjudul “Respons Dunia Arab terhadap Upaya Perdamaian Palestina-Israel: Apa yang Telah Dilakukan dan Apa yang Harus Dilakukan?”, Dr. Asep menekankan bahwa dorongan bagi negara-negara Arab semakin kuat karena kedekatan geografis mereka dengan Gaza. Selain itu, negara-negara Arab memiliki kemampuan untuk mendorong perdamaian, terutama dengan dukungan Deklarasi New York yang disahkan di Majelis Umum PBB pada 12 September lalu.
Deklarasi New York di Majelis Umum PBB disetujui dengan 142 suara mendukung, 10 menolak, dan 12 abstain. Poin penting dari deklarasi ini mencakup pengakhiran perang di Gaza, pencapaian penyelesaian damai konflik Israel-Palestina berdasarkan solusi dua negara, serta pembangunan masa depan yang lebih baik untuk Palestina, Israel, dan seluruh kawasan.
Butir-butir penting lainnya termasuk pernyataan bahwa perang di Gaza harus segera berakhir, dukungan untuk upaya Mesir, Qatar, dan Amerika Serikat dalam implementasi gencatan senjata, pembebasan semua sandera dan pertukaran tahanan Palestina, serta penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Dr. Asep menjelaskan bahwa polarisasi di dunia Arab dalam merespons konflik dan genosida yang dilakukan Israel terhadap warga Palestina di Gaza sejak 7 Oktober 2023 mencerminkan pergeseran paradigma dari retorika solidaritas menjadi diplomasi pragmatis.
“Respons Arab terhadap konflik ini mencerminkan pergeseran paradigma dari retorika solidaritas menjadi diplomasi pragmatis,” jelas Dr. Asep, yang juga menjabat sebagai Kepala Laboratorium Ilmu Politik FISIP UMJ. Arab Saudi, misalnya, berusaha tampil sebagai pusat diplomasi dengan pendekatan institusional, membentuk Global Alliance for Two-State Solution dan mengalokasikan miliaran dolar untuk bantuan kemanusiaan. Namun, peran Saudi ini tampak kalah dibandingkan inisiatif perdamaian Qatar, yang berkali-kali berperan sebagai mediator, meski sempat diserang oleh Israel. Qatar juga berhasil melakukan upaya pertukaran sandera dengan tahanan, meskipun tidak berlangsung lama.
Lebih lanjut, negara-negara Arab, khususnya di Dewan Kerjasama Teluk (GCC), mengalami polarisasi dalam membantu menciptakan perdamaian di Gaza. “Perbedaan sikap terhadap Hamas menimbulkan fragmentasi internal di GCC. Polarisasi ini menguji batas solidaritas Arab antara idealisme Islamisme dan realitas politik pragmatis,” tambah Dr. Asep Setiawan, yang pernah mengunjungi langsung Gaza dan Tepi Barat, menyaksikan pendudukan Israel dan pengusiran warga Palestina di Tepi Barat.
Dr. Asep menyampaikan bahwa dunia harus mendukung solusi dua negara melalui kerjasama kawasan dan PBB. Namun, dalam diskusi tersebut, muncul keraguan bahwa Israel akan mengikuti solusi ini karena Israel tidak bisa dipercaya dan masih terus melakukan penyerangan terhadap warga Gaza, yang sejak Oktober 2023 telah menelan lebih dari 65 ribu korban jiwa dan menyebabkan kerusakan masif.
Pembicara lain dalam seminar ini adalah Nostalgiawan Wahyudhi, M.A dari BRIN, dengan makalah berjudul “Respons Indonesia terhadap Two State Solution,” dan Dr. Ryantori dari Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), dengan topik “Respons Dunia Barat terhadap Penyelesaian Konflik Palestina-Israel.” Seminar yang merupakan kerjasama antara BRIN, Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama), dan The Indonesian Society for Middle East Studies (ISMES) ini dipimpin oleh moderator Sari Amalia Dewi, S.H, LLM dari Universitas Prof. Dr Moestopo (Beragama).
(Red/js)













