Oleh: Johan Sopaheluwakan
Indonesia, dengan keberagaman agama dan budaya yang kaya, seharusnya menjadi contoh nyata kerukunan hidup berdampingan. Namun, realitanya, ancaman intoleransi masih membayangi, meskipun tingkatnya mungkin masih tergolong rendah. Kenyataan ini tidak boleh dianggap remeh. Sikap mayoritas yang enggan merasa dikalahkan, seringkali diinterpretasikan sebagai persaingan, bukan sebagai perbedaan yang semestinya dihargai. Provokasi, baik yang terselubung maupun terang-terangan, semakin mudah menyebar dan membakar api perpecahan. Kita harus waspada terhadap upaya-upaya yang bertujuan menghancurkan integritas bangsa.

Salah satu faktor yang memprihatinkan adalah lemahnya penegakan hukum. Meskipun anggaran kepolisian terbilang besar, Aparat Penegak Hukum (APH) seringkali tampak kalah jumlah dan bahkan terkesan berpihak, membiarkan sentimen agama dan fanatisme berkembang. Lebih memprihatinkan lagi, pendidikan anak-anak pun terkontaminasi, mengajarkan mereka untuk membenci teman yang berbeda agama. Ini adalah ancaman serius terhadap masa depan bangsa.
Untuk mengatasi masalah ini, peran semua pemangku kepentingan (stakeholder) sangat krusial. Mulai dari pemerintah, lembaga keagamaan, organisasi masyarakat sipil, hingga individu, semua harus bahu-membahu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kepekaan dan komunikasi yang baik antar-umat beragama sangat diperlukan untuk membangun jembatan pemahaman dan saling menghormati.
Selain itu, jurang ekonomi yang lebar juga menjadi pemicu intoleransi. Kesenjangan ekonomi yang besar dapat memicu kecemburuan sosial dan menciptakan kelompok yang merasa terpinggirkan, rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah. Pemerataan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat menjadi kunci penting dalam mencegah munculnya intoleransi berbasis ekonomi.
Intoleransi bukanlah masalah yang dapat diabaikan. Ini adalah ancaman nyata yang dapat mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan penanggulangan harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, dengan melibatkan seluruh komponen bangsa. Hanya dengan kesadaran dan komitmen bersama, kita dapat menjaga Indonesia tetap aman, damai, dan rukun.
Penulis adalah Pengurus DPP PENA (Perhimpunan Penulis dan Editor Indonesia), tinggal di Jakarta













