Peran Ulama Membangkitkan Kepedulian Merajut Ukhuwah Oleh: Junaidi Jamsari

  • Bagikan

Bandar Lampung (Swarabhayangkara.id), 26 Desember 2025 – Keberkahan dari kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara akan terwujud jika ada kesadaran untuk saling mengingatkan mendengarkan dan menerima kebenaran. Oleh sebab itulah Rasulullah berpesan kepada istri-istrinya untuk memperbanyak kuah masakan untuk dibagikan kepada tetangga-tetangganya.

Maknanya apabila seseorang mewakili kelebihan rezeki janganlah ia melupakan tetangga kiri-kanan, mungkin diantara mereka ada yang tidak memiliki makanan untuk hari itu, atau mungkin anaknya sedang sakit namun ia malu pinjam uang untuk berobat. Bisa juga kepedulian yang kita lakukan dalam bentuk non makanan, semisal biaya kesehatan atau biaya pendidikan. Bukankah yang paling memahami kesulitan sosial seseorang selain tetangganya.

Pentingnya kepedulian kita kepada sesama, Imam Muslim dalam hadits Qudsi:
Dari Abu Hurairoh ra, Rosulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT berfirman pada hari kiamat: “Wahai anak adam! Aku sakit kenapa engkau tidak menjengukku, ia berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku menjengukmu, sedangkan engkau adalah Tuhan semesta alam Alla berfirman “Engkau tahu bahwa seorang hambu-Ku sakit di dunia akan tetapi engkau tidak menjenguknya, seandainya engkau menjenguknya sungguh engkau akan dapati Aku di sisinya.” Wahai anak adam, Aku meminta makan kepadamu, kenapa engkau tidak memberiku?” Orang itu berkata “Wahai Tuhanku, bagaimana mungkin aku member-Mu makan, sedangkan engkau adalah Tuhan semesta alam? Allah berfirman: “Engkau mengetahui ada dari hamba-Ku yang kelaparan dan engkau tidak memberinya makan, sekiranya engkau memberinya makan, niscaya engkau dapati Aku di sisinya. Wahai anak adam Aku meminta minum padamu, sedang engkau enggan memberikan Ku minum.” la berkata: “Wahai Tuhanku, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam?” Allah menjawab
“Seseorang meminta minum padamu dan engkau tak memberinya, sekiranya engkau memberinya minum niscaya engkau dapati Aku di sisinya.” (HR. Muslim).

Kesimpulan adalah: bahwa tidak mungkin individu yang kotor, yang hidup di alam dosa, akan melahirkan masyarakat yang baik. Oleh karena itu, jalan satu-satunya untuk membangun masyarakat yang bersih dan beradab, penuh dengan nuansa tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan.

Lukmanul Hakim menasehati anaknya: Kamu harus kaya dengan harta yang halal, janganlah kamu fakir. Sebab orang yang hidupnya fakir, akan mendapatkan tiga musibah, yakni: lemah dalam beragamanya, lemah daya pikirannya dan hilang rasa malunya. Sedangkan musibah yang paling besar adalah menjadi hinaan orang.
Firman Allah SWT: Jika kalian berbuat kebaikan, maka kebaikan itu bagi diri kalian sendiri dan bila kalian berbuat jahat, maka kejahatan itupun bagi kalian sendiri… (Q.S. 17 Al-Isra: 7).

Kita dapat melakukan peran itu melalui berbagai perbaikan yang dapat dirasakan oleh umat, dan juga perbaikan yang menyangkut kenegaraan, “ishlah wathaniyah”.

Almaghfurlah K.H. Wahab Chasbullah merupakan tauladan yang patut dijadikan contoh. Karena semasa hidunya, beliau adalah sosok ulama yang banyak berperan dalam membangun kemaslahatan bagi umat dan negara.
Beliau telah banyak melakukan iqamatul mushalih wal manafi’, membangun kemaslahatan-kemaslahatan dan kemanfaatan, wa izalatul mafasid wal adrar, dan juga menghilangkan kerusakan-kerusakan dan bahaya-bahaya, baik yang menyangkut umat maupun menyangkut bangsa dan negara. Harapan kita agar masyarakat Indonesia dapat terus menjaga semangat dalam membangun kemaslahatan.

“Semangat ini semangat untuk menghilangkan mafsadah [kerusakan], semangat menghilangkan bahaya, semangat membangun kemaslahatan dan kemanfaatan harus terus kita pupuk sepanjang masa.

Ukhuwah Islamiyah dan kemaslahatan umat adalah dua konsep yang saling berkaitan; ukhuwah Islamiyah (persaudaraan antarumat Islam) menjadi pondasi untuk mencapai kemaslahatan (kebaikan) umat secara keseluruhan, melalui sikap saling tolong-menolong, peduli, dan menjaga keharmonisan. Hubungan ini terwujud dalam kerja sama untuk mengatasi tantangan, seperti kesenjangan ekonomi dan sosial, serta memperkuat solidaritas dan kesejahteraan mental.
Ukhuwah islamiyah yang meliputi rasa persaudaraan, saling peduli, tolong-menolong, dan kebersamaan dalam kebaikan. Islam mengajarkan ukhuwah islamiyah sebagai dasar persaudaraan universal yang dilandasi kerja sama dan tolong-menolong untuk kemaslahatan bersama, termasuk membela mustad’afin.

Membela mustad’afin melanjutkan tugas Rasul dengan mengutip Al-Qur’an: …”membuang beban-beban (penderitaan) dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka”. Rasullullah saw. bersabda, “kamu ditolong dan diberi rezeki karena orang-orang lemah di antaramu.” Dan, cintailah orang miskin dan akrablah dengan mereka, supaya Allah pun akrab juga dengan engkau pada hari kiamat.

Sebagaimana telah dilukiskan oleh Rasul mulia saw. “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan dan kesetiakawanan, sama seperti satu tubuh, yang bila salah satu anggotanya mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya menunjukkan simpatinya dengan berjaga semalaman dan menanggung panas karena demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hajat ummat manusia terhadap ulama dan du’at merupakan kebutuhan vital, seperti kebutuhan suatu masyarakat terhadap petani, nelayan, dokter dan profesi-profesi penentu sarana kehidupan, bahkan lebih. Karena kebutuhan ummat manusia terhadap ilmu serta arahan para ulama dan du’at melebihi kebutuhan terhadap makanan, minuman, dan kesehatan. Makanan dan minuman hanya dibutuhkan 2-3 kali dalam sehari. Sedangkan ilmu dan bimbingan wahyu melalui ulama dan du’at dibutuhkan sepanjang tarikan nafas.
Karena kebutuhan ummat terhadap ulama bukan hanya dalam soal urusan Dien yang menyangkut ibadah mahdhah. Karena Islam tidak mengenal dikotomi antara agama dan dunia seperti dipahami oleh kalangan sekular. Tetapi Islam mencakup seluruh aspek kehidupan. Sehingga arahan dan bimbingan para ulama juga dibutuhkan dalam persoalan duniawi menyangkut muamalat sehari-hari.
Ummat butuh kepada ulama bukan hanya dalam urusan hubungan dengan Allah, tetapi dalam urusan dengan sesama manusia pun perlu panduan wahyu melalui penjelasan para ulama dan da’i. Bimbingan ulama juga dibutuhkan urusan jual beli, pernikahan, etika bergaul dan berinteraksi dengan karib kerabat, tetangga, orang tua, mendidik anak, dan urusan muamalat lainnya. Ketidak hadiran peran ulama dalam masyarakat tidak hanya berdampak urusan Agama mereka, tapi berdampak pula pada urusan kehidupan dunia mereka.
Dalam riwayat Thabrani dari Abu Hanifah disebutkan “Duduklah bersama kubara’ (ulama besar) dan bertanyalah kepada para ulama serta bergaul lah dengan para hukama’ (orang bijak).

Ulama berfungsi sebagai pilar kekuatan spiritual, sosial, dan moral yang membantu masyarakat untuk pulih, bersatu, dan bangkit.

Rasulullah Saw dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bersabda, “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, yang saling menguatkan antara satu bagian dengan bagian lainnya.” Hadis ini menggambarkan bagaimana seharusnya umat Islam saling mendukung dan menguatkan dalam menghadapi kesulitan. (rls).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *